Dulu saya punya anggapan yang sangat sederhana.
Kalau ada promosi jabatan di perusahaan, pasti orang yang dipilih adalah orang yang paling pintar.
Yang paling menguasai pekerjaannya.
Yang paling cepat menyelesaikan masalah.
Atau mungkin yang paling lama bekerja.
Waktu itu saya benar-benar percaya.
Sampai akhirnya saya mulai bekerja di sebuah perusahaan BUMN.
Di sanalah cara berpikir saya mulai berubah.
Saya Lebih Sering Mengamati daripada Banyak Bicara
Sebagai anak baru, saya sadar masih banyak yang harus dipelajari.
Daripada banyak bicara, saya lebih sering memperhatikan.
Memperhatikan bagaimana orang bekerja.
Bagaimana seorang atasan mengambil keputusan.
Bagaimana seorang senior berbicara dengan operator.
Dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain ketika tidak ada kepentingan apa pun.
Semakin lama saya bekerja, semakin banyak orang yang saya kenal.
Ada yang luar biasa pintar.
Kalau ada mesin bermasalah, beliau seperti sudah tahu jawabannya.
Ada juga yang hafal hampir semua proses kerja.
Kalau ditanya apa saja, jawabannya selalu ada.
Jujur, saya kagum.
Dalam hati saya berpikir,
"Kalau nanti ada promosi jabatan, mungkin beliau yang akan dipilih."
Ternyata tidak.
Orang yang Dipromosikan Justru Membuat Saya Heran
Beberapa waktu kemudian ada kabar promosi jabatan.
Saya penasaran.
Diam-diam saya menebak-nebak siapa yang akan mendapat kesempatan itu.
Nama yang ada di kepala saya ternyata tidak muncul.
Justru yang dipromosikan adalah orang lain.
Awalnya saya heran.
Bahkan sempat bertanya-tanya.
"Kenapa bukan beliau?"
Semakin sering melihat proses promosi, semakin sering pula saya menemukan pola yang sama.
Orang yang dipromosikan tidak selalu orang yang paling pintar.
Bukan juga yang paling vokal.
Bukan pula yang paling lama bekerja.
Lalu apa yang membuat mereka berbeda?
Pertanyaan itu terus ada di kepala saya.
Saya Mulai Memperhatikan Hal-Hal Kecil
Sejak saat itu saya lebih sering memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya anggap penting.
Saya melihat ada seorang senior yang selalu menyapa operator lebih dulu sebelum mulai bekerja.
Kalau ada masalah, beliau tidak langsung menyalahkan siapa pun.
Beliau lebih memilih bertanya.
Mendengarkan.
Lalu mengajak mencari solusi bersama.
Saya juga melihat ada orang yang tidak pernah pelit berbagi ilmu.
Kalau ada anak baru bertanya, beliau menjelaskan dengan sabar.
Padahal beliau sebenarnya sedang sibuk.
Yang menarik, orang-orang seperti itu selalu dihormati.
Bukan karena jabatannya.
Tapi karena sikapnya.
Kalau beliau berbicara, orang lain mau mendengarkan.
Kalau beliau meminta bantuan, orang-orang juga dengan senang hati membantu.
Semuanya terasa alami.
Tidak dibuat-buat.
Ternyata Leadership Itu Terlihat dari Hal-Hal Sederhana
Dulu saya mengira leadership itu soal memimpin rapat.
Memberikan arahan.
Mengambil keputusan besar.
Ternyata setelah melihat langsung di dunia kerja, saya punya pandangan yang sedikit berbeda.
Leadership sering kali muncul dari hal-hal yang sederhana.
Mau mendengarkan.
Mau mengakui kesalahan.
Tidak malu meminta maaf.
Menghargai semua orang tanpa melihat jabatan.
Dan tetap tenang ketika menghadapi masalah.
Semakin lama saya bekerja, semakin saya yakin bahwa kemampuan teknis memang penting.
Tetapi kemampuan bekerja bersama orang lain tidak kalah penting.
Karena sehebat apa pun seseorang, pada akhirnya hampir semua pekerjaan diselesaikan bersama tim.
Ilmu Membuat Kita Diterima, Sikap Membuat Kita Dipercaya
Kalau hari ini saya diminta menyebut satu pelajaran yang paling membekas selama bekerja, mungkin inilah jawabannya.
Ilmu membuat kita diterima bekerja.
Tetapi sikap membuat orang lain percaya kepada kita.
Saya pernah melihat orang yang sangat pintar.
Tetapi sulit diajak bekerja sama.
Saya juga pernah melihat orang yang ilmunya biasa saja.
Namun semua orang nyaman bekerja bersamanya.
Dan anehnya, orang kedua itulah yang lebih sering mendapat kepercayaan untuk memimpin.
Saat itu saya baru benar-benar mengerti.
Perusahaan bukan hanya mencari orang yang mampu menyelesaikan pekerjaan.
Perusahaan juga mencari orang yang mampu membawa timnya bertumbuh.
Sampai Hari Ini Saya Masih Mengingatnya
Sekarang, setiap kali bertemu orang-orang hebat, saya tidak lagi hanya memperhatikan seberapa pintar mereka.
Saya juga memperhatikan bagaimana mereka memperlakukan orang lain.
Bagaimana mereka mendengarkan.
Bagaimana mereka menghargai pendapat tim.
Bagaimana mereka tetap rendah hati meskipun memiliki jabatan yang tinggi.
Karena dari semua pengamatan itu, saya belajar satu hal.
Orang mungkin akan mengingat kemampuan kita.
Tetapi mereka lebih lama mengingat sikap kita.
Dan mungkin...
Itulah alasan kenapa tidak semua orang paling pintar selalu menjadi orang yang dipromosikan.
Dulu saya mengira promosi jabatan hanya soal kemampuan bekerja.
Sekarang saya punya pandangan yang berbeda.
Kemampuan memang membuka pintu.
Tetapi attitude, komunikasi, dan leadership sering kali menentukan seberapa jauh seseorang bisa melangkah.
Itulah pelajaran sederhana yang saya bawa pulang dari dunia kerja.
Dan sampai hari ini, saya masih terus belajar menerapkannya.
.png)
