Penyebab Resistor Panas (Overheating) Hingga Menyebabkan Terbakar

Ketika komponen resistor dipasang pada suatu rangkaian yang bertegangan listrik, kemungkinan yang terjadi pada komponen resistor tersebut adalah akan mengalami salah satu dari beberapa kondisi temperatur berikut ini : 

  1. suhu normal
  2. suhu hangat
  3. suhu panas
  4. panas berlebih (overheating)

Apa sebetulnya yang menjadi penyebab temperatur suhu pada komponen resistor tersebut dapat meningkat.

Apa pula yang menyebabkan resistor menjadi panas, bahkan mengakibatkan resistor gosong dan terbakar.

Fenomena tersebut terjadi dibeberapa kasus resistor berikut ini, misalnya saja pada resistor dengan nilai resistansi sebesar 100 ohm, resistor 330 ohm, resistor 10 ohm dan resistor jenis kapur yang dapat mengalami peningkatan temperatur hingga terbakarnya komponen resistor tersebut.

Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut itulah saya akan mencoba menganalisa penyebab resistor terbakar pada suatu rangkaian circuit.

Beberapa sumber pun telah saya kumpulkan untuk saya pelajari sebagai bahan referensi kemudian merangkumnya disini. Berikut penjelasannya.

Penyebab Resistor Panas Pada Rangkaian 

Penyebab komponen resistor mengalami peningkatan suhu dan panas berlebih pada suatu rangkaian circuit adalah diindikasikan oleh adanya aliran arus listrik yang mengalir didalam rangkaian tersebut.

Besarnya arus listrik yang mengalir dan melewati sebuah komponen resistor tersebut sudah mencapai nilai ambang batas dari kemampuan kerja resistor itu sendiri.

Kita ketahui bahwa, setiap komponen elektronika, baik itu komponen elektronika pasif maupun komponen elektronika aktif memiliki daya atau kemampuan fungsi kinerjanya masing-masing.

Dimana, kemampuan kerja tersebut telah disesuaikan dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pabrik pembuatnya.

Jadi, jika suatu kompenen dibebankan dengan beban kerja yang berlebih, atau dengan kata lain melampaui kapasitasnya (overload) maka komponen tersebut akan mengalami disfungsi kinerja (bekerja tidak normal).

Fungsi Komponen Resistor

Salah satu fungsi dari komponen resistor adalah untuk membatasi arus listrik yang mengalir di dalam suatu rangkaian. Artinya, resistor mampu menahan, meredam dan menurunkan besarnya aliran arus listrik yang mengalir didalam suatu rangkaian.

Akan tetapi aliran arus listrik yang mengalir melawati komponen resistor tersebut tidak boleh melampaui dari nilai kapasitas yang diijinkan oleh komponen resistor tersebut. Ada nilai ambang batasan tertentu yang tidak boleh dilampaui.

Nilai ambang batas itu disebut dengan kemampuan (daya) yang dimiliki oleh komponen resistor. Jika arus atau tegangan kerja yang diberikan kepada resistor melebihi dari kapasitas daya yang dimilikinya maka akan terjadi disfungsi resistor. Kerja resistor akan terganggu dan tidak normal.

Sebaliknya, jika resistor bekerja dibawah nilai ambang batas daya maksimal yang dimiliki oleh resistor (daya yang diijinkan) maka fungsi kerja dari resistor tersebut akan lebih baik dan lebih maksimal.

Kondisi itulah yang menyebabkan mengapa temperatur resistor akan mengalami peningkatan suhu atau mungkin berada pada kondisi kestabilan suhu normal.

Maka tidak heran lagi jika pada suatu rangkaian terdapat komponen resistor, kemudian resistor tersebut memiliki kondisi temperatur tertentu.

Cara termudah untuk merasakan suhu temperatur pada komponen resistor yaitu dengan menyentuh komponen resistor tersebut. Apakah resistor terasa hangat atau tidak, atau bahkan mungkin terasa panas.

Jika arus yang mengalir dan melewati komponen resistor itu terus-menerus diberikan dan dinaikan nilai tegangannya kemungkinan akan menyebabkan resistor tersebut hangus dan terbakar.

Prinsip Kerja Resistor pada Suatu Rangkaian

Ketika sebuah rangkaian listrik / rangkaian elektronik diberikan sumber tegangan maka akan terjadi aliran arus listrik didalamnya.

Pada proses tersebut akan terjadi aliran elektron yang mengalir ke seluruh komponen. Salah satunya yaitu mengalir melalui komponen resistor.

Pada saat elektron-elektron ini melewati resistor, resistor akan mengalami reaksi dimana pada proses tersebut resistor akan mengalami pemanasan.

Ketika elektron-elektron mengalir didalam rangkaian, ada beberapa kemungkinan kondisi suhu yang akan terjadi pada resistor tersebut.

Kondisi Suhu Resistor pada Suatu Rangkaian 

1. Kondisi Suhu Resistor Normal

Kondisi pertama adalah kondisi dimana resistor berada pada suhu normal tanpa mengalami kenaikan temperatur. Resistor tidak hangat ketika disentuh. Pada kondisi ini resistor bekerja pada kondisi terbaiknya.

Kondisi ini akan terjadi jika arus yang mengalir melewati komponen resistor ini berada dibawah nilai kapasitas arus maksimumnya.

2. Kondisi Suhu Resistor Hangat Normal

Pada kondisi ini, resistor akan terasa hangat jika dipegang. Kondisi ini terjadi jika arus yang mengalir pada resistor ini sudah mendekati dari nilai kapasitas arus maksimumnya. Pada kondisi ini resistor masih dapat digunakan dan berfungsi dengan baik.

3. Kondisi Suhu Resistor Panas

Kondisi ini merupakan lanjutan dari kondisi hangat normal diatas. Kondisi ini terjadi jika nilai arus yang mengalir pada komponen resistor tersebut sudah mencapai nilai ambang batas maksimumnya. 

Temperatur yang meningkat ini bukanlah kondisi yang baik. Karena, ketika suhu berlebih ini terjadi secara terus-menerus maka kinerja dan performa resistor akan menurun. Berdampak pada disfungsi komponen dan bahkan dapat menimbulkan terbakarnya komponen resistor itu sendiri.

4. Kondisi Panas Berlebih (Overheating)

Kondisi panas berlebih ini akan terjadi jika arus yang mengalir pada komponen resistor sudah melebihi dari nilai ambang batas kapasitas arus maksimum resistor tersebut.

Jika kondisi ini terjadi terus menerus maka komponen resistor dapat mengalami kerusakan seperti hangus, gosong dan resistor dapat terbakar dengan cepat.

Memaksimalkan Fungsi Resistor

Pembuat resistor atau manufacture telah melakukan perancangan dan mendesain sebaik mungkin komponen resistor tersebut agar komponen ini dapat bekerja semaksimal mungkin.

Penggunaan resistor dimaksimalkan agar bekerja dibawah tegangan dan arus yang telah ditentukan atau bekerja dibawah tegangan dan arus spesifiksi yang telah ditentukan oleh pabrikan. Sehingga fungsi dari resistor tersebut dapat bekerja secara maksimal.

Hubungan Daya, Tegangan, Arus dan Hukum Ohm

Berbicara mengenai kapasitas dari kemampuan resistor maka sama halnya dengan berbicara mengenai daya (satuan watt) pada resistor itu sendiri.

Daya yang disimbolkan dengan huruf P. Dimana kita ketahui bahwa rumus untuk menentukan nilai daya adalah P = V . I, dengan V adalah tegangan dan arus adalah I. Atau, untuk mencari daya dapat juga menghitungnya dengan P = I2 R.

Daya berbanding lurus dengan nilai tegangan dan nilai arus. Sehingga semakin besar nilai tegangan yang terukur maka akan semakin besar pula nilai daya yang terukur. Sama halnya dengan nilai arus, semakin besar nilai arus yang mengalir maka nilai daya yang terukur akan semakin besar pula.

Rumus daya tersebut sangat erat berhubungan dengan rumus hukum ohm yaitu V = I . R.

Dimana untuk menentukan nilai arus pada sebuah rangkaian merupakan pembagian antara tegangan (V) dengan nilai resistansi yang dimiliki oleh komponen resistor (ohm).

Sehingga terlihat jelas keterkaitannya antara Hukum Ohm dengan rumus daya P = V . I .

Kemampuan dari Kapasitas Komponen Resistor

Kita ambil saja contoh resistor jenis karbon. Umumnya resistor jenis karbon ini memiliki kemampuan daya (watt) yang berbeda-beda, diantaranya yaitu sebesar 0.125 watt, 0.250 watt, 0.5 watt, 1 watt dan 2 watt. Nilai-nilai tersebut telah di tentukan oleh pabrik pembuatnya.

Kita mulai dengan studi kasus sederhana. Misalnya saja kita memiliki sebuah resistor berjenis karbon dengan kemampuan daya sebesar 1 watt. Dengan kemampuan daya resistor 1 watt tersebut, maka tegangan dan arus yang diberikan pada sebuah resistor nilainya haruslah berada dibawah spesifikasi kemampuan daya 1 watt tersebut.

Ingat ! bahwa parameter untuk mencari nilai daya adalah hasil perkalian antara tegangan dengan arus, dirumuskan P = V x I.

Jadi kita harus memperhatikan kedua parameter tersebut yaitu tegangan V dan arus I, agar resistor dapat bekerja dibawah kemampuan daya maksimumnya.

Daya yang terukur pada resistor didalam suatu rangkaian merupakan hasil perkalian antara tegangan dan arus. Nilai daya tersebut haruslah berada dibawah kapasitas maksimum spesifikasi daya yang dimiliki oleh resistor tadi yaitu sebesar 1 watt, agar kinerja resistor dapat dimaksimalkan.

Beberapa kondisi suhu yang akan terjadi :

  • Kondisi suhu normal. Kondisi ini akan terjadi jika kerja resistor berada dibawah kemampuan daya maksimumnya yaitu 1 watt. Pada konsisi ini temperatur resistor tidak mengalami peningkatan suhu. Resistor bekerja dengan sangat baik.
  • Kondisi suhu hangat. Kondisi ini akan terjadi jika kerja resistor berada pada kemampuan daya yang sudah mendekati daya maksimumnya yaitu 1 watt. Pada kondisi ini temperatur resistor mengalami peningkatan suhu, terasa hangat jika disentuh. Resistor masih dapat bekerja dengan baik.
  • Kondisi suhu panas. Kondisi ini akan terjadi jika kerja resistor sudah mencapai kemampuan daya maksimumnya yaitu mencapai 1 watt. Pada kondisi ini temperatur resistor mengalami peningkatan suhu panas. Resistor masih dapat bekerja tetapi fungsinya sudah mulai menurun.
  • Kondisi panas berlebih (overheating). Kondisi ini akan terjadi jika kerja resistor sudah melebihi kemampuan daya maksimumnya yaitu melebihi 1 watt. Pada kondisi ini temperatur resistor mengalami peningkatan suhu panas bahkan panas yang berlebih. Kerja resistor menurun, sangat memungkinkan resistor akan hangus, gosong dan bahkan terbakar. Pada kondisi resistor yang sudah terbakar inilah maka resistor tidak dapat berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Jika pada suatu rangkaian terdapat komponen resistor yang sudah rusak dan terbakar, maka arus akan dilewatkan begitu saja melalui resistor yang rusak tadi tanpa ada hambatan apa pun dan arus tidak akan dibatasi / diturunkan.

Kesimpulan

Bisa kita simpulkan bahwa apa yang menjadi penyebab resistor sering rusak, panas dan terbakar terus-menerus adalah ke-tidak-tepat-an dalam pemanfaatan komponen resistor tersebut.

Ketika resistor dipasang pada suatu rangkaian listrik baik itu rangkaian seri maupun rangkaian paralel, penggunaan resistor tidak sesuai dengan peruntukannya.

Terbakarnya resistor tersebut yaitu diakibatkan oleh tegangan yang diberikan terlalu besar sehingga arus yang mengalir pada suatu rangkaian yang melewati resistor tersebut pun besar. Hal itu yang mengakibatkan panas berlebih (overheating) sehingga menyebabkan resistor rusak dan terbakar.

Demikian analisa mengenai Penyebab Resistor Panas berlebihan (Overheating) Hingga Menyebabkan Terbakar.

Kang Nurdin
Kang Nurdin
Dari pengalaman yang sudah-sudah, belajar itu membutuhkan waktu dan konsistensi. Perjalanan panjang dalam kehidupan ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran itu. Jadi, teruslah bersabar dalam mengarunginya.

Related Posts