Lkd0w4E1RXeko9lO8B7b5aHwUYMeguVeq3zLAoHH

Saya Pernah Membuat Rekan Kerja yang Lebih Senior Kesal. Dari Situ Saya Belajar Cara Memberi Arahan

Ilustrasi komunikasi di dunia kerja antara karyawan dan rekan kerja yang lebih senior saat menyampaikan arahan dengan pendekatan yang baik.

Masih jelas di ingatan saya.

Waktu itu saya baru beberapa bulan bekerja di sebuah perusahaan BUMN.

Sebagai anak baru, rasanya semua ingin saya pelajari secepat mungkin.

Saya ingin terlihat mampu.

Saya ingin pekerjaan selesai tepat waktu.

Dan saya ingin membuktikan kalau saya memang layak berada di sana.

Suatu pagi, atasan memberikan saya tanggung jawab yang menurut saya waktu itu sangat sederhana.

Membagikan pekerjaan kepada tim.

Saya melihat daftar pekerjaan di tangan.

Lalu melihat orang-orang yang akan mengerjakannya.

Jujur...

Saat itu saya langsung gugup.

Bukan karena pekerjaannya sulit.

Tapi karena hampir semua orang yang ada di depan saya usianya jauh lebih tua.

Ada yang seumuran bapak saya.

Ada juga yang pengalaman kerjanya jauh lebih lama daripada umur saya.

Sedangkan saya?

Baru lulus kuliah.

Baru mengenal dunia kerja.

Tetapi pagi itu saya tetap harus menyampaikan pekerjaan kepada mereka.

Saya Mengira yang Penting Pekerjaannya Tersampaikan

Karena belum punya pengalaman, saya berpikir sederhana.

Yang penting pekerjaan tersampaikan.

Saya langsung menjelaskan siapa mengerjakan apa.

Tidak banyak basa-basi.

Tidak banyak ngobrol.

Dalam pikiran saya, semakin cepat pekerjaan dibagikan, semakin cepat semuanya selesai.

Ternyata saya keliru.

Tidak lama setelah itu, saya merasakan ada yang berbeda.

Salah seorang rekan kerja yang lebih senior terlihat kurang berkenan dengan cara saya menyampaikan pekerjaan.

Beliau memang tetap mengerjakan tugasnya.

Tetapi saya bisa merasakan suasananya berubah.

Jujur, saat itu saya merasa tidak enak.

Saya sama sekali tidak berniat merendahkan siapa pun.

Saya hanya menjalankan tugas.

Sepanjang hari saya terus memikirkan kejadian itu.

Apa yang sebenarnya salah?

Saya Mulai Memperhatikan Orang-Orang yang Lebih Berpengalaman

Beberapa hari kemudian, saya mulai memperhatikan bagaimana atasan saya bekerja.

Beliau juga membagikan pekerjaan kepada orang-orang yang sama.

Tetapi caranya berbeda.

Beliau tidak langsung berbicara soal pekerjaan.

Beliau menyapa lebih dulu.

Menanyakan kabar.

Kadang bercanda sebentar.

Suasananya terasa santai.

Baru setelah itu beliau menjelaskan pekerjaan yang harus dilakukan.

Yang membuat saya heran, semua orang langsung bekerja seperti biasa.

Tidak ada wajah yang kesal.

Tidak ada suasana canggung.

Saat itulah saya mulai sadar.

Mungkin selama ini saya terlalu fokus pada pekerjaan.

Padahal saya lupa membangun komunikasi.

Saya Mengubah Cara, Bukan Mengubah Orangnya

Sejak saat itu saya mencoba memperbaiki diri.

Kalau bertemu tim di pagi hari, saya tidak langsung membahas pekerjaan.

Saya menyapa dulu.

Mengobrol sebentar.

Kadang bertanya tentang keluarga.

Kadang hanya bercanda ringan.

Obrolannya memang singkat.

Tapi ternyata pengaruhnya besar.

Saat harus membagikan pekerjaan, saya juga mulai menjelaskan kenapa pekerjaan itu penting.

Kalau memungkinkan, saya meminta pendapat mereka.

Saya baru sadar kalau pengalaman mereka jauh lebih banyak daripada saya.

Sering kali mereka justru memberikan solusi yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Perlahan-lahan suasana berubah.

Yang dulu terasa canggung, mulai terasa akrab.

Yang dulu terasa seperti memberi perintah, berubah menjadi mengajak bekerja bersama.

Dan tanpa saya sadari, rasa percaya diri saya ikut tumbuh.

Bukan karena saya merasa lebih hebat.

Tetapi karena saya mulai memahami cara berkomunikasi dengan lebih baik.

Saya tidak lagi datang dengan pikiran, "Saya harus menyuruh mereka."

Saya datang dengan pikiran, "Bagaimana supaya pekerjaan ini bisa selesai bersama-sama?"

Ternyata cara berpikir sederhana itu mengubah banyak hal.

Pekerjaan tetap selesai.

Target tetap tercapai.

Yang paling saya syukuri, hubungan kami juga menjadi jauh lebih baik.

Saya jadi lebih percaya diri saat harus mendistribusikan pekerjaan.

Bukan karena jabatan saya berubah.

Tetapi karena saya belajar cara berkomunikasi yang lebih baik.

Dan sejak saat itu, hampir tidak pernah lagi ada gesekan seperti yang saya alami di awal.

Ternyata Rasa Hormat Tidak Bisa Dipaksa

Ada satu pelajaran yang sampai sekarang masih saya pegang.

Rasa hormat tidak muncul karena jabatan.

Rasa hormat juga tidak muncul karena usia.

Rasa hormat tumbuh dari cara kita memperlakukan orang lain.

Semakin saya menghargai mereka, semakin mudah kami bekerja sama.

Saya juga belajar untuk lebih banyak mendengarkan.

Karena sering kali orang yang sudah puluhan tahun bekerja memiliki pengalaman yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah.

Dan pengalaman itu sangat berharga.

Pelajaran yang Masih Saya Bawa Sampai Hari Ini

Hari ini perjalanan hidup saya sudah membawa saya ke banyak tempat.

Saya belajar tentang dunia elektro.

Kalibrasi.

Teknologi.

Blogging.

Dan banyak hal lainnya.

Tetapi pengalaman di awal dunia kerja itu masih sering saya ingat.

Kalau hari ini saya harus mendistribusikan pekerjaan kepada tim, saya tidak lagi merasa gugup seperti dulu.

Saya datang.

Menyapa.

Mengobrol sebentar.

Menjelaskan tujuan pekerjaan.

Mendengarkan masukan.

Baru setelah itu kami mulai bekerja.

Aneh ya.

Pekerjaannya masih sama.

Orangnya juga sama.

Yang berubah hanyalah cara saya berkomunikasi.

Dan ternyata perubahan kecil itu membuat semuanya terasa jauh lebih mudah.

Sampai hari ini saya percaya, memberi arahan bukan berarti menyuruh orang.

Memberi arahan adalah mengajak orang bekerja menuju tujuan yang sama.

Mungkin terdengar sederhana.

Tetapi pelajaran itulah yang sampai sekarang masih saya bawa ke mana pun saya bekerja.

Karena pada akhirnya, pekerjaan bisa selesai karena kemampuan. Tetapi kepercayaan hanya bisa dibangun dengan komunikasi dan rasa hormat.


Lebih lamaTerbaru