Dulu saya punya keyakinan yang sederhana.
Kalau pintar, karier akan bagus.
Kalau kemampuan teknis tinggi, kesempatan akan datang dengan sendirinya.
Kalau selalu bisa menyelesaikan masalah, pasti akan menjadi andalan.
Masuk akal, kan?
Saya juga dulu percaya itu.
Apalagi saya berasal dari dunia teknik. Dari kuliah sampai bekerja, yang sering dibahas ya soal kompetensi, kemampuan teknis, dan bagaimana menyelesaikan masalah.
Pokoknya, semakin pintar semakin baik.
Setidaknya itu yang saya yakini dulu.
Sampai suatu hari saya bertemu seseorang yang sangat pintar.
Orang yang Selalu Punya Jawaban
Orang ini benar-benar menguasai pekerjaannya.
Kalau ada masalah teknis, dia tahu jawabannya.
Kalau ada pekerjaan yang rumit, dia tahu caranya.
Kalau ada diskusi, dia hampir selalu punya solusi.
Singkatnya, dia adalah orang yang sering menjadi rujukan.
Saya sendiri kagum dengan kemampuannya.
Tapi ada satu hal yang membuat saya heran.
Tidak banyak orang yang benar-benar ingin bekerja dengannya.
Awalnya saya bingung.
Bukankah orang seperti ini yang dibutuhkan setiap tim?
Bukankah orang seperti ini yang seharusnya paling dicari?
Semakin lama saya mengamati, semakin saya memahami jawabannya.
Masalahnya bukan pada kemampuan teknisnya.
Masalahnya ada pada cara dia memperlakukan orang lain.
Ketika Pintar Saja Ternyata Tidak Cukup
Kadang dia memotong pembicaraan orang lain.
Kadang dia sulit menerima pendapat yang berbeda.
Kadang tanpa sadar membuat orang lain merasa tidak dihargai.
Padahal mungkin niatnya baik.
Mungkin dia hanya ingin pekerjaan selesai dengan benar.
Tetapi cara penyampaiannya membuat suasana menjadi tidak nyaman.
Pernah bertemu orang seperti itu?
Pintar.
Sangat pintar.
Tetapi saat harus bekerja bersama, rasanya malah membuat kita tegang.
Kalau ada rapat, kita jadi lebih banyak diam.
Kalau ada ide, kita jadi ragu untuk menyampaikan.
Bukan karena idenya buruk.
Tetapi karena suasananya tidak nyaman.
Di situlah saya mulai sadar sesuatu.
Ternyata bekerja itu bukan hanya soal pekerjaan.
Ternyata Kita Bekerja dengan Manusia
Dulu saya mengira dunia kerja dipenuhi oleh target, laporan, angka, dan pekerjaan teknis.
Ternyata sebagian besar waktu kita justru dihabiskan untuk berinteraksi dengan manusia.
Berkoordinasi dengan rekan kerja.
Berdiskusi dengan atasan.
Meminta bantuan tim lain.
Menyampaikan pendapat.
Menyelesaikan perbedaan pendapat.
Bahkan sering kali masalah pekerjaan selesai bukan karena ada orang yang paling pintar.
Tetapi karena ada orang yang bisa menyatukan banyak orang untuk bekerja bersama.
Nah, bagian ini yang dulu tidak terlalu saya pahami.
Pelajaran yang Tidak Saya Dapatkan di Bangku Kuliah
Saat kuliah saya belajar banyak hal.
Rumus.
Perhitungan.
Analisis.
Teori.
Semua itu penting.
Tetapi saya tidak ingat pernah ada mata kuliah tentang bagaimana membuat orang lain merasa nyaman.
Padahal setelah masuk dunia kerja, kemampuan itu ternyata sangat berharga.
Saya pernah melihat orang yang kemampuan teknisnya biasa saja.
Tidak paling pintar.
Tidak paling menonjol.
Tetapi hampir semua orang senang bekerja dengannya.
Dia mudah diajak berdiskusi.
Mau mendengarkan.
Tidak merasa paling hebat.
Tidak membuat orang lain merasa kecil.
Dan anehnya, banyak kesempatan datang kepadanya.
Saat ada proyek baru, namanya sering disebut.
Saat ada pekerjaan bersama, banyak yang ingin satu tim dengannya.
Kenapa?
Karena orang percaya kepadanya.
Dan orang nyaman bekerja dengannya.
Personality Adalah Investasi yang Diam-Diam Tumbuh
Semakin lama bekerja, saya semakin percaya bahwa personality adalah investasi yang sering diremehkan.
Banyak orang fokus meningkatkan skill.
Itu bagus.
Memang harus begitu.
Tetapi jangan sampai lupa meningkatkan cara kita berinteraksi dengan orang lain.
Menghargai orang.
Mendengarkan.
Mengucapkan terima kasih.
Tidak meremehkan pendapat orang lain.
Tidak merasa paling benar.
Kelihatannya sederhana.
Tetapi dampaknya luar biasa.
Karena dari situlah kepercayaan tumbuh.
Dan dalam dunia kerja, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat mahal.
Jangan Baik Karena Ada Maunya
Menurut saya, bagian ini juga penting.
Membangun hubungan baik bukan berarti mencari muka.
Bukan berarti berpura-pura ramah.
Bukan berarti bersikap baik hanya kepada orang yang memiliki jabatan lebih tinggi.
Karena orang bisa merasakan ketulusan.
Mereka tahu mana yang benar-benar menghargai orang lain.
Dan mana yang hanya bersikap baik ketika sedang membutuhkan sesuatu.
Saya justru belajar bahwa hubungan kerja yang paling kuat biasanya dibangun dari ketulusan yang sederhana.
Menyapa.
Mendengarkan.
Menghargai.
Membantu ketika mampu.
Tanpa menghitung untung rugi.
Pelajaran yang Masih Saya Ingat Sampai Hari Ini
Setelah bekerja di BUMN dan ASN, ada satu hal yang terus saya ingat.
Skill memang penting.
Tanpa skill, kita akan sulit berkembang.
Tetapi skill bukan satu-satunya hal yang membuat karier berjalan jauh.
Karena pada akhirnya, orang mungkin mengagumi kemampuan kita.
Tetapi mereka memilih bekerja bersama kepribadian kita.
Mungkin itulah alasan mengapa saya pernah bertemu orang yang sangat pintar, tetapi tidak banyak yang ingin bekerja dengannya.
Dan sebaliknya, saya juga pernah bertemu orang yang kemampuan teknisnya biasa saja, tetapi selalu dicari ketika ada pekerjaan baru.
Hari ini saya mulai memahami alasannya.
Bukan karena siapa yang paling pintar.
Tetapi karena siapa yang membuat orang lain merasa dihargai dan nyaman.
Dan menurut saya, pelajaran itu jauh lebih berharga daripada yang pernah saya bayangkan.
.png)
