Ada satu kebiasaan di rumah yang baru saya sadari setelah punya anak.
Pagi-pagi, sebelum berangkat kerja, istri sudah lebih dulu sibuk di dapur. Saya biasanya tinggal duduk sambil menunggu kopi. Sesekali ngobrol sama anak yang lagi lari-larian ke sana kemari.
Di pojok dapur, rice cooker sudah mulai mengepul.
Rutinitas yang sama. Hampir setiap hari.
Lucunya, selama bertahun-tahun saya nggak pernah benar-benar memperhatikan benda itu.
Yang penting nasinya matang.
Yang penting anak-anak bisa makan.
Selesai.
Sampai suatu malam, saya lagi lihat tagihan listrik.
Bukan karena tagihannya bikin kaget. Tapi rasanya kok... bulan ini agak beda.
Saya mulai keliling rumah.
TV.
Dispenser.
Charger HP.
Pompa air.
Sampai akhirnya berdiri cukup lama di depan rice cooker.
Lampunya masih menyala.
Padahal nasi terakhir diambil sudah beberapa jam yang lalu.
Saya senyum sendiri.
"Jangan-jangan saya yang selama ini kurang perhatian."
Iseng saya balik rice cookernya.
Di bagian bawah ada stiker kecil. Biasanya nggak pernah dilihat.
Di situ tertulis daya listriknya.
Baru dari situ saya kepikiran.
Sebenarnya rice cooker itu berapa watt, ya?
Ternyata Jawabannya Nggak Sama
Kalau berharap jawabannya satu angka, saya juga sempat begitu.
Eh... ternyata beda-beda.
Ada yang dayanya sekitar 300 watt.
Ada juga yang lebih besar.
Tergantung kapasitasnya, mereknya, sampai teknologi yang dipakai.
Jadi kalau ada teman bertanya, "Rice cooker berapa watt?"
Saya sekarang lebih sering balik bertanya.
"Rice cookernya yang mana dulu?"
Karena memang setiap produk punya spesifikasi yang berbeda.
Kalau penasaran dengan milik sendiri, cara paling gampang bukan mencari di Google.
Coba lihat bagian bawah rice cooker.
Biasanya semua informasi sudah tertulis di sana.
Yang Sering Salah Dipahami
Dulu saya mengira begini.
Semakin besar angka watt, berarti semakin boros.
Padahal kenyataannya nggak sesederhana itu.
Misalnya rice cooker membutuhkan daya cukup besar saat memasak nasi.
Tapi proses memasaknya cuma sebentar.
Setelah itu selesai.
Yang sering tidak terasa justru kebiasaan kita.
Nasi sudah matang.
Anak sudah makan.
Semua sudah selesai.
Rice cooker tetap menyala.
Besok paginya baru dimatikan.
Hehe... saya juga pernah begitu.
Bukan karena sengaja.
Ya... lupa saja.
Ternyata Kebiasaan Kecil Itu Ada Pengaruhnya
Saya jadi ingat kata Bapak dulu.
"Kalau mau hemat, jangan cuma lihat yang besar. Yang kecil-kecil juga diperhatikan."
Waktu kecil saya nggak begitu paham.
Sekarang baru terasa.
Lampu teras yang lupa dimatikan.
Charger HP yang masih menancap.
TV yang cuma jadi teman suara.
Sampai rice cooker yang sebenarnya sudah tidak dipakai lagi.
Satu-satu memang kelihatannya sepele.
Tapi kalau semuanya dibiarkan setiap hari, ya akhirnya terasa juga.
Cara Mengetahui Daya Rice Cooker
Kalau Anda baru membeli rice cooker atau lupa spesifikasinya, tidak perlu menebak-nebak.
Lihat saja label spesifikasi yang biasanya ada di bagian bawah atau belakang produk.
Di sana biasanya tertulis informasi seperti:
- Tegangan listrik (Volt)
- Frekuensi (Hz)
- Daya listrik (Watt)
- Nomor model
Menurut saya, itu jauh lebih akurat daripada sekadar menebak berdasarkan ukuran rice cookernya.
Jadi, Apakah Rice Cooker Boros Listrik?
Menurut saya, tidak adil kalau langsung menyebut rice cooker itu boros.
Karena setiap rumah punya kebiasaan yang berbeda.
Ada keluarga yang memasak sekali sehari.
Ada yang dua kali.
Ada juga yang memang membiarkan nasi tetap hangat karena anggota keluarganya makan bergantian.
Semuanya sah-sah saja.
Yang penting kita tahu bagaimana alat itu bekerja dan menggunakannya sesuai kebutuhan.
Sejak Hari Itu...
Saya memang tidak langsung berubah jadi orang yang super hemat.
Masih pernah lupa.
Masih pernah membiarkan rice cooker menyala lebih lama.
Namanya juga manusia.
Tapi sekarang, setiap kali lewat dapur, mata saya otomatis melirik lampu kecil di rice cooker.
Kalau memang sudah tidak dipakai, saya matikan.
Bukan karena takut tagihan listrik naik.
Lebih ke rasa sayang saja.
Kalau bisa hemat sedikit, kenapa tidak?
Uangnya bisa dipakai beli es krim buat anak.
Nah... yang itu biasanya lebih cepat habis daripada listriknya. 😄
Kesimpulan
Kalau ada yang bertanya kepada saya sekarang, "Rice cooker berapa watt?"
Jawabannya sederhana.
Setiap rice cooker bisa berbeda. Cara paling tepat adalah melihat spesifikasi yang tertera pada produk yang Anda gunakan.
Tapi setelah mencari tahu soal itu, saya malah belajar satu hal.
Kadang yang membuat tagihan listrik terasa lebih besar bukan karena satu alat elektronik yang luar biasa boros.
Melainkan karena kebiasaan kecil yang kita anggap biasa.
Rice cooker.
Lampu.
TV.
Charger.
Semuanya terlihat sepele.
Padahal kalau dikumpulkan setiap hari, baru kerasa juga.
Ya... hidup memang sering begitu.
Bukan perkara yang besar yang menguras isi dompet.
Kadang justru yang kecil-kecil, tapi terus berulang.
.png)
