Lkd0w4E1RXeko9lO8B7b5aHwUYMeguVeq3zLAoHH

Pelajaran Terbesar yang Saya Bawa Pulang dari BUMN Ternyata Bukan Soal Pekerjaan

Ilustrasi meja kerja minimalis dengan buku catatan dan cangkir kopi yang menggambarkan pelajaran kepemimpinan serta pengalaman bekerja di perusahaan BUMN.

Dulu waktu pertama kali diterima bekerja di perusahaan BUMN, saya senang bukan main.

Rasanya seperti mimpi yang akhirnya jadi kenyataan.

Sebagai lulusan baru, bisa bekerja di perusahaan besar tentu jadi kebanggaan tersendiri.

Saya datang dengan semangat.

Di kepala saya waktu itu cuma ada satu pikiran.

"Saya harus belajar pekerjaan secepat mungkin."

Saya kira tantangan terbesarnya nanti soal mesin.

Soal alat.

Soal target.

Soal laporan.

Ternyata saya salah.

Justru pelajaran yang paling membekas sampai hari ini bukan soal pekerjaan.

Bukan juga soal gaji.

Tapi soal kepemimpinan.

Lucunya, saya nggak pernah benar-benar diajari lewat kelas khusus.

Saya belajar dari hal-hal kecil yang saya lihat setiap hari.

Saya Lebih Banyak Belajar dengan Melihat

Ada satu hal yang sampai sekarang masih saya ingat.

Saya pernah melihat seorang atasan yang sebenarnya punya jabatan tinggi.

Tapi cara bicaranya biasa saja.

Kalau bertemu siapa pun, beliau selalu menyapa lebih dulu.

Kalau ada masalah, beliau tidak langsung mencari siapa yang salah.

Beliau lebih dulu mencari jalan keluarnya.

Entah kenapa, hal sederhana seperti itu justru lebih membekas dibanding banyak teori yang pernah saya pelajari.

Dari situ saya mulai sadar.

Ternyata orang bisa dihormati bukan karena jabatannya.

Tapi karena sikapnya.

Ternyata Memimpin Itu Tidak Sesulit yang Saya Bayangkan

Dulu saya mengira pemimpin itu harus paling pintar.

Harus paling hebat.

Harus selalu punya jawaban.

Ternyata kenyataannya tidak begitu.

Saya justru melihat banyak orang hebat yang tidak pernah merasa dirinya paling hebat.

Mereka lebih sering mendengarkan.

Lebih sering bertanya.

Dan tidak malu mengakui kalau belum tahu.

Buat saya, itu pelajaran yang mahal.

Karena sampai sekarang pun saya masih berusaha belajar melakukan hal yang sama.

Kesalahan Tidak Selalu Harus Dicari Kambing Hitamnya

Namanya juga baru bekerja.

Saya juga pernah melakukan kesalahan.

Dan jujur, waktu itu rasanya takut sekali.

Takut dimarahi.

Takut dianggap tidak becus.

Tapi dari situ saya melihat sesuatu yang berbeda.

Ada atasan yang tidak langsung menyalahkan orang.

Beliau lebih memilih mencari penyebabnya.

Lalu mengajak tim memperbaikinya bersama-sama.

Mungkin terdengar sederhana.

Tapi buat saya, cara seperti itu justru mengajarkan banyak hal.

Saya jadi paham kalau tujuan seorang pemimpin bukan mencari siapa yang salah.

Melainkan memastikan kesalahan yang sama tidak terulang lagi.

Pelajaran Itu Masih Saya Bawa Sampai Sekarang

Hari ini saya memang sudah tidak bekerja di perusahaan itu lagi.

Perjalanan hidup juga membawa saya ke banyak pengalaman baru.

Saya belajar tentang kalibrasi.

Tentang dunia elektro.

Tentang blogging.

Tentang AI.

Tentang banyak hal yang bahkan dulu tidak pernah saya bayangkan.

Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Cara saya memandang kepemimpinan.

Kalau hari ini saya bekerja dengan orang lain, saya selalu teringat pelajaran-pelajaran kecil yang dulu saya lihat.

Kalau suatu saat saya diberi kepercayaan memimpin sebuah tim, saya juga ingin mengingat bagaimana dulu saya diperlakukan.

Karena menurut saya, menjadi pemimpin bukan soal berdiri paling depan.

Bukan juga soal siapa yang paling banyak bicara.

Kadang...

Menjadi pemimpin cukup dimulai dengan mau mendengarkan.

Mau menghargai orang lain.

Dan tidak berhenti belajar.

Oleh-Oleh Paling Berharga

Kalau ada yang bertanya kepada saya,

"Apa oleh-oleh paling berharga selama bekerja di perusahaan BUMN?"

Mungkin jawaban saya akan berbeda dengan kebanyakan orang.

Bukan soal gaji.

Bukan soal fasilitas.

Bukan juga soal nama besar perusahaannya.

Tapi tentang nilai-nilai yang saya pelajari di sana.

Nilai yang sampai hari ini masih saya ingat.

Masih saya coba terapkan.

Dan mungkin...

Akan terus saya bawa ke mana pun saya melangkah.

Karena pada akhirnya, pekerjaan bisa berganti.

Tempat kerja juga bisa berubah.

Tapi pelajaran hidup yang kita dapat dari orang-orang baik, rasanya akan tetap tinggal lebih lama.

Dan buat saya...

Itulah oleh-oleh paling berharga yang pernah saya bawa pulang.