Bulan ke-4 itu aneh.
Bukan awal, tapi juga belum bisa dibilang jalan jauh.
Di fase itu, aku sudah tidak mulai dari nol.
Follower sudah ada.
Beberapa orang mulai mengenal.
Ada yang menunggu konten berikutnya.
Tapi justru di situlah rasa berat itu datang.
Bukan karena tidak ada hasil.
Justru karena hasilnya tidak secepat yang dibayangkan.
Saat Capek Mulai Lebih Keras dari Semangat
Di bulan-bulan awal, semuanya terasa seru.
Masih ada rasa penasaran.
Masih ada harapan besar.
Tapi memasuki bulan ke-4, ritmenya berubah.
Bangun pagi tetap dengan tanggung jawab yang sama.
Pulang kerja tetap dengan badan lelah.
Lalu masih harus mikir:
“Konten apa lagi hari ini?”
Aku mulai merasa bukan sekadar capek fisik, tapi capek pikiran.
Buka Instagram, lihat akun lain tumbuh lebih cepat.
Lihat komentar orang ke mereka.
Lalu tanpa sadar membandingkan.
Padahal awalnya aku berjanji ke diri sendiri:
nggak mau banding-bandingkan.
Follower Ada, Tapi Ragu Juga Ikut Datang
Yang bikin fase ini berat adalah satu hal:
hasilnya ada, tapi belum cukup buat nenangin hati.
Kalau benar-benar nol, mungkin lebih mudah menyerah.
Tapi ini tidak.
Sudah ada yang follow.
Sudah ada yang like.
Sudah ada yang bilang kontennya kena.
Dan justru itu yang bikin dilema.
Berhenti rasanya salah.
Lanjut rasanya berat.
Aku mulai bertanya ke diri sendiri:
“Aku sanggup sejauh ini aja, atau sanggup lanjut lebih jauh?”
Ada Malam Aku Benar-Benar Diam
Ada satu malam aku duduk lama.
HP di tangan, tapi nggak dibuka.
Kepala penuh.
Aku sadar, selama ini aku terlalu sibuk mikirin angka.
Padahal di awal aku mulai bukan karena angka.
Aku mulai karena keresahan.
Karena ingin bercerita.
Karena ingin meninggalkan sesuatu yang jujur.
Di titik itu aku bertanya pelan ke diri sendiri:
“Kalau nggak ada yang nonton, aku masih mau bikin konten ini nggak?”
Jawabannya tidak langsung muncul.
Tapi setelah diam cukup lama, jawabannya datang:
iya.
Yang Hampir Membuatku Menyerah Bukan Algoritma
Aku sadar, yang hampir membuatku berhenti bukan algoritma.
Bukan juga karena konten jelek.
Tapi karena aku mulai lupa alasan awal.
Aku terlalu fokus pada:
angka
grafik
perbandingan
Sampai lupa bahwa aku ini manusia biasa.
Seorang ayah.
Bukan mesin konten.
Aku Tidak Berhenti, Aku Mengubah Cara Berjalan
Aku tidak memaksa diri jadi lebih cepat.
Aku memilih jadi lebih jujur.
Aku berhenti ikut-ikutan.
Aku berhenti mengejar format orang lain.
Aku kembali ke ceritaku sendiri.
Pelan-pelan, ritmenya terasa lebih ringan.
Upload bukan lagi beban, tapi proses.
Dan anehnya, justru setelah aku tidak terlalu mengejar,
perlahan hasilnya mulai mengikuti.
Pelajaran dari Bulan ke-4
Bulan ke-4 mengajarkanku satu hal penting:
fase paling berat bukan di awal, tapi di tengah.
Di saat:
sudah ada hasil
tapi belum cukup besar
dan capek mulai menumpuk
Kalau kamu ada di fase ini, mungkin kamu tidak salah jalan.
Mungkin kamu hanya sedang diuji:
mau lanjut dengan niat, atau berhenti karena ragu.
Penutup
Aku hampir menyerah di bulan ke-4.
Tapi bukan karena gagal.
Aku hampir menyerah karena capek menjadi orang lain.
Begitu aku kembali jadi diriku sendiri, jalannya terasa lebih tenang.
Pelan, tapi aku tetap jalan.
Dan sampai hari ini, aku bersyukur tidak berhenti di bulan itu.
.png)
.png)