Enam bulan pertama itu masa paling melelahkan.
Bukan karena capek bikin konten, tapi karena aku nggak tahu sebenarnya aku sedang menuju ke mana.
Setiap malam buka HP, lihat akun orang lain tumbuh cepat.
Sementara punyaku… jalan di tempat.
Aku sempat mikir:
“Apa aku salah jalan?”
“Apa ngonten bukan buat orang kayak aku?”
Ternyata, setelah aku lewati fase itu, aku sadar satu hal penting:
masalahnya bukan di algoritma, tapi di diriku sendiri.
Aku Terlalu Sibuk Menjadi Orang Lain
Di 6 bulan pertama, aku melakukan satu kesalahan besar:
aku terlalu sering menoleh ke kanan dan kiri.
Lihat konten ini viral, aku ikut.
Lihat gaya itu rame, aku tiru.
Lihat format ini naik, aku pakai.
Masalahnya, setiap kali ikut-ikutan, rasanya selalu ada yang kosong.
Kontennya jadi ada, tapi **rasanya bukan aku**.
Aku upload, tapi nggak puas.
Aku konsisten, tapi cepat lelah.
Dan itu pelan-pelan menggerus semangat.
Aku Mengira Konsistensi Itu Cuma Soal Rajin Upload
Waktu itu aku pikir:
yang penting upload tiap hari, urusan lain belakangan.
Ternyata aku salah.
Aku rajin, tapi tanpa arah.
Aku hadir, tapi tanpa identitas.
Akibatnya, aku sering bertanya sendiri:
“Kenapa aku bikin konten ini, ya?”
Kalau pertanyaan itu muncul terlalu sering, biasanya satu hal akan menyusul:
ingin berhenti.
Aku Terlalu Cepat Mengharapkan Hasil
Ini jujur.
Aku berharap lebih cepat dari yang seharusnya.
Baru beberapa bulan, tapi sudah berharap besar.
Saat hasil tidak sesuai harapan, aku kecewa — bukan ke orang lain, tapi ke diri sendiri.
Padahal, aku lupa satu hal:
aku ini ayah, punya tanggung jawab, punya hidup nyata di luar layar.
Ngonten seharusnya jadi bagian dari perjalanan, bukan sumber tekanan baru.
Titik Balik Itu Datang Saat Aku Diam Sejenak
Ada satu malam aku berhenti membandingkan.
Aku tutup aplikasi, taruh HP, dan mikir pelan-pelan.
Aku tanya ke diri sendiri:
“Kalau nggak ada yang nonton, aku masih mau bikin konten ini nggak?”
Jawabannya: iya.
Dari situ aku mulai berubah:
Aku berhenti meniru
Aku mulai bercerita
Aku fokus pada hidupku sendiri
Dan anehnya, justru setelah itu semuanya mulai tumbuh.
Pelajaran yang Baru Aku Pahami Setelah Lewat
Kesalahan terbesar di 6 bulan pertama bukan soal teknis.
Bukan soal kamera.
Bukan soal jam upload.
Kesalahan terbesarnya adalah aku lupa jadi diriku sendiri.
Begitu aku kembali ke niat awal — demi anak dan istri —
aku jadi lebih tenang, lebih konsisten, dan lebih tahan lama.
Penutup
Kalau kamu sedang di fase awal ngonten dan merasa capek, ragu, atau ingin berhenti, mungkin kamu tidak salah jalan.
Mungkin kamu hanya sedang belajar mengenal dirimu sendiri.
Aku pun begitu.
Dan perjalanan ini masih panjang.
Pelan, tapi aku tetap jalan.
.png)
