Lkd0w4E1RXeko9lO8B7b5aHwUYMeguVeq3zLAoHH

PV 105°C, Thermometer Saya Cuma 97°C — Cerita Kalibrasi Oven di Perusahaan Nikel Morowali

Controller tegangan digital menampilkan nilai PV 105 V dan SV 105 V pada layar

Kalau cuma lihat layar controller, waktu itu tidak ada yang aneh.

SV 105°C.

PV 105°C.

Oven sudah mencapai temperatur yang diminta.

Tapi saya sedang tidak datang ke perusahaan nikel di Morowali itu untuk sekadar melihat apakah angka di controller sudah 105°C.

Saya sedang melakukan kalibrasi.

Jadi saya keluarkan thermometer standar, pasang di titik pengukuran, lalu menunggu sampai temperaturnya cukup stabil.

Saya lihat angkanya.

97°C.

Saya lihat controller lagi.

105°C.

“Wah, selisih 8 derajat.”

Begitu kira-kira yang ada di kepala saya waktu itu.

Saya tidak langsung menyentuh setting controller

Kalau baru pertama kali melihat kejadian seperti ini, mungkin tangan langsung ingin masuk ke menu controller.

Tapi saya sudah cukup sering berhadapan dengan alat ukur.

Jadi saya tahan dulu.

Saya tunggu lagi.

Saya ukur lagi.

Saya pastikan kondisi oven memang sudah stabil dan hasil thermometer standar tidak berubah jauh.

Karena percuma kita melakukan adjustment kalau data awal yang kita pakai belum benar-benar meyakinkan.

Setelah beberapa kali pengukuran hasilnya memang masih menunjukkan perbedaan, barulah saya mulai melihat controllernya.

Controller yang digunakan adalah Autonics.

Bagian adjustment-nya ternyata tidak serumit yang dibayangkan

Untuk controller Autonics yang menggunakan parameter PAR-2 dan IN-B, langkahnya seperti ini.

Pertama, pastikan controller berada pada kondisi normal atau RUN mode.

Kedua, tekan dan tahan tombol MODE sampai masuk ke kelompok parameter.

Ketiga, cari PAR-2.

Setelah masuk ke PAR-2, tinggal tekan MODE untuk berpindah dari satu parameter ke parameter berikutnya.

Sampai akhirnya muncul:

IN-B

Nah, ini parameter yang kita cari.

IN-B digunakan untuk memberikan koreksi pada pembacaan input controller.

Pada kasus saya, controller membaca 105°C, sementara thermometer standar membaca 97°C.

Berarti ada selisih:

97 - 105 = -8°C

Jadi koreksinya adalah -8°C, dengan catatan cara kerja tanda koreksi harus mengikuti model controller yang digunakan.

Setelah nilainya dimasukkan, saya tidak langsung menganggap pekerjaan selesai.

Justru setelah itu saya ukur lagi

Ini bagian yang menurut saya paling penting.

Oven saya biarkan kembali stabil.

Lalu saya lihat PV.

Saya ukur lagi dengan thermometer standar.

Saya ingin melihat apakah setelah adjustment, selisih yang tadi 8°C memang menjadi lebih kecil.

Karena buat saya, adjustment bukan sekadar membuat angka di layar kelihatan sesuai.

Kalau angka berubah tapi hasil pengukuran tidak membaik, ya buat apa?

Makanya setelah melakukan adjustment, pengukuran ulang tetap dilakukan.

Dari pekerjaan seperti ini saya jadi lebih hati-hati melihat angka

Dulu mungkin saya akan melihat PV 105°C dan langsung berpikir, “Oke, berarti sudah 105°C.”

Sekarang tidak sesederhana itu.

Bukan berarti saya tidak percaya controller.

Saya cuma tahu bahwa satu angka perlu dibandingkan dengan angka lain ketika kita sedang melakukan kalibrasi.

Hari itu saya menemukan:

SV 105°C
PV 105°C
Thermometer standar 97°C

Selisihnya memang cuma 8°C.

Tapi justru dari angka itulah pekerjaan saya dimulai.

Saya ukur.

Saya cek lagi.

Saya lakukan adjustment.

Kemudian saya ukur kembali.

Begitulah kira-kira pekerjaan saya ketika berhadapan dengan alat ukur.

Kadang yang dicari bukan kerusakan.

Kadang cuma mencari tahu, seberapa layak sebuah angka untuk dipercaya.

Dan menurut saya, itu yang membuat pekerjaan kalibrasi tidak pernah benar-benar sesederhana kelihatannya.

Lebih lamaTerbaru