Awal saya main Instagram itu sebenarnya biasa saja.
Saya bukan kreator besar, bukan juga orang yang paham strategi konten. Saya cuma seorang ayah yang pengin cerita, tapi bingung mau mulai dari mana.
Saya pengin bikin konten yang gampang dikerjain, bisa konsisten, dan masih masuk di waktu saya sebagai ayah. Dari situ saya mulai kepikiran bikin animasi pakai bantuan AI. Bukan buat gaya-gayaan, tapi supaya proses bikinnya lebih ringan.
Walaupun pakai AI, isi ceritanya tetap dari saya.
Tentang rumah, anak, istri, dan kehidupan sehari-hari.
Bingung Cari Nama Konten
Sebelum upload apa pun, justru yang paling lama itu cari nama akun.
Saya mikir:
nama apa yang nggak aneh,
nggak sok keren,
dan masih jujur sama hidup saya sendiri.
Saya ini ayah.
Setiap hari yang dipikirin ya kerja, pulang, anak, istri, dan tanggung jawab.
Dari situ muncul satu kalimat yang sering banget ada di kepala saya:
demi anak istri.
Nggak ada filosofi berat.
Cuma kalimat sederhana yang rasanya dekat banget sama hidup saya.
Awalnya Cuma Iseng dan Coba-coba
Setelah nama itu kepake, saya mulai upload animasi.
Jujur saja, awalnya cuma iseng.
Upload satu,
lalu lanjut aktivitas seperti biasa.
Nggak mikir bakal rame.
Nggak mikir bakal ke mana-mana.
Perasaan waktu itu cuma:
Coba dulu aja.
Ternyata Banyak yang Ngerasa Sama
Pelan-pelan, kontennya mulai nyebar.
Komentar mulai berdatangan.
Banyak yang bilang:
- “Ini gue banget.”
- “Kejadian di rumah gue juga.”
- “Kok kayak hidup saya.”
Di situ saya mulai sadar,
ternyata cerita sederhana tentang keluarga itu nyentuh banyak orang, terutama para ayah.
Bukan karena animasinya.
Tapi karena ceritanya dekat.
Mulai Konsisten Sejak Maret 2025
Saya mulai lebih serius ngelola akun Demi Anak Istri sejak Maret 2025.
Bukan serius dalam arti ambisius, tapi serius buat konsisten.
Upload pelan-pelan.
Cerita apa adanya.
Sampai sekarang, follower terus bertambah dan sudah sekitar 85 ribu dan terus bertambah. Alhamdulillah.
Angka itu bukan bikin saya bangga berlebihan, tapi bikin saya mikir.
Karena yang datang itu kebanyakan ayah-ayah yang lagi berjuang.
Muncul Keinginan Buat Lebih Bermanfaat
Setelah follower makin banyak, muncul satu pertanyaan:
“Kalau cuma cerita, cukup nggak ya?”
Saya pengin konten ini punya manfaat, bukan cuma hiburan lewat.
Saya pengin ada sesuatu yang bisa dibaca lebih dalam, lebih tenang.
Dari Instagram ke Blog
Akhirnya saya mulai nulis di blog.
Di blog, saya bisa cerita lebih panjang.
Nggak perlu dipotong.
Nggak perlu mikirin durasi.
Isinya tetap sama:
- pengalaman pribadi
- cerita rumah
- proses yang saya alami sendiri
Semua saya tulis dengan bahasa sederhana.
Biar siapa pun yang baca bisa ngerti.
Kenapa Saya Pilih Tetap Sederhana
Saya sadar, orang yang datang ke Demi Anak Istri itu datang bukan karena pengen diajarin.
Mereka datang karena pengin baca cerita yang jujur.
Makanya saya nggak pengin:
- sok pintar
- sok sukses
- sok tahu
Saya cuma nulis sebagai ayah biasa.
Peran Instagram dan Blog Sekarang
Sekarang saya lihat perannya jadi jelas.
Instagram:
- tempat animasi
- potongan cerita
- pengantar
Blog:
- cerita lengkap
- lebih tenang
- bisa dibaca kapan saja
Instagram itu pintu.
Blog itu tempat duduk.
Pelajaran yang Saya Ambil
Dari semua proses ini, saya belajar beberapa hal:
1. Cerita yang jujur lebih awet
2. Nama yang lahir dari pengalaman terasa lebih hidup
3. Nggak semua hal harus direncanakan dari awal
4. Kadang, berbagi cerita saja sudah cukup
Penutup
Nama Demi Anak Istri lahir dari kebingungan seorang ayah.
Bukan dari strategi besar.
Sekarang saya cuma pengin terus bercerita.
Tentang rumah.
Tentang tanggung jawab.
Tentang hal-hal kecil yang sering terlewat.
Kalau ada yang merasa ditemani, itu sudah cukup.
.png)
.png)