Lkd0w4E1RXeko9lO8B7b5aHwUYMeguVeq3zLAoHH

Saya Duduk Lama di Depan Rockwell Tester Itu

Saya Duduk Lama di Depan Rockwell Tester Itu

Hari itu saya nggak langsung nyalain alat.

Saya duduk sebentar, ngeliatin Rockwell hardness tester analog di depan saya. Dial masih jarum, bodinya berat, semua geraknya mekanik. Dari fotonya kelihatan jelas: ini bukan tipe alat yang bisa diperlakukan buru-buru.

Unit yang saya kerjakan buatan Wilson Instrument Division model lama, full manual. Buat sebagian orang mungkin terlihat kuno. Tapi buat saya, alat seperti ini justru jujur. Salah sedikit, hasilnya langsung kelihatan.

Saya mulai dari yang paling dasar:

  • bersihin anvil
  • cek penetrator
  • putar spindle pelan-pelan

Jarum belum mau balik ke nol. Gerakannya agak berat.

Saya lepas.
Saya ulang.

Di pekerjaan seperti ini, buru-buru cuma bikin capek sendiri.


Jarum Itu Nggak Pernah Bohong

Begitu minor load masuk, saya putar bezel buat cari posisi SET.

Sekilas kelihatan sudah pas.

Tapi saya geser kepala sedikit, lihat dari sudut lain — ternyata masih offset tipis.

Ini yang sering bikin hasil Rockwell beda-beda: jarum terlihat benar, padahal belum benar.

Saya ulang lagi.

Naikkan spesimen.
Masuk minor load.
Putar dial.

Baru setelah beberapa kali, jarum benar-benar stabil.

Di situ saya senyum kecil. Biasanya kalau sudah sampai titik ini, alat mulai “nurut”.


Test Block Jadi Teman Diskusi

Setelah zero beres, saya masuk ke bagian yang menurut saya paling penting: ganti test block standar.

Dan iya — memang ada block standar sesuai skalanya, bukan satu macam saja.

Dari pekerjaan ini saya pakai:

  • HRC (Rockwell C – diamond cone, material keras)
  • HRB (Rockwell B – bola baja, material lebih lunak)
  • Superficial HRN / HRT (beban kecil)

Sedikit diluruskan juga:

HRB itu Rockwell B.
HB itu Brinell — beda metode.

Saya ukur satu per satu.

Masuk major load, tahan sebentar, lepas, baca jarum.

Awalnya HRC masih keluar toleransi. Saya set ulang preload, cek posisi penetrator, lalu ulang.

Kedua lebih dekat.
Ketiga mulai konsisten.

Buat saya pribadi, kalibrasi itu bukan soal satu angka.

Yang saya cari itu rasa stabilnya.

Kalau tiga kali baca hasilnya mirip, berarti kita sudah di jalur yang benar.


Ganti Block = Ganti Bandul Beban

Nah, ini bagian yang sering disepelekan — padahal krusial.

Karena alat ini masih mekanik, setiap ganti block standar, bandul bebannya juga wajib ikut ganti.

Urutannya:

  • HRC → bandul 150 kgf
  • HRB → bandul 100 kgf
  • Superficial → bandul 45 kgf / 15 kgf

Minor load tetap dari mesin (10 kgf untuk Rockwell reguler).

Jadi ringkasnya:

  • HRC = 150 kgf
  • HRB = 100 kgf
  • Superficial = 45 / 30 / 15 kgf

Ini sering jadi sumber error di lapangan.

Block sudah diganti, tapi bandul belum.

Jarum tetap jalan — tapi angka yang keluar sudah pasti salah.

Makanya setiap pindah block, saya selalu berhenti sebentar:

  • cek skala
  • cek penetrator
  • cek bandul
  • baru lanjut ukur

Buat saya, ini seperti ngobrol sama alat:

“HRC kamu gimana?”
“HRB kamu masih sehat nggak?”
“Superficial kamu masih konsisten?”

Kalau semua nyambung, barulah saya percaya alat ini siap dipakai.

Perpindahan antar block lebih penting daripada satu hasil bacaan.


Ini Bukan Soal Standar Doang

Secara metode, saya tetap mengacu ke standar Rockwell dari ASTM International, khususnya ASTM E18..

Tapi jujur saja, di lapangan standar itu cuma pagar.

Yang bikin alat benar-benar “sehat” itu:

  • tangan yang sabar
  • mata yang teliti
  • mau ngulang tanpa kesel

Rockwell analog nggak bisa diperlakukan kayak alat digital. Dia minta disentuh pelan. Dia minta diperhatikan.


Yang Saya Pelajari dari Alat Tua Ini

  • alat lama belum tentu kalah akurat
  • zero itu pondasi
  • penetrator kotor bisa bikin semua jadi ngawur
  • satu kali reading itu cuma angka, bukan kesimpulan

Dan satu lagi:

kalibrasi itu bukan lomba cepat.


Pulang dengan Perasaan Beres

Pas semua skala sudah masuk toleransi, saya berdiri agak lama.

Jarum sudah tenang. Nilai sudah konsisten.

Di laporan nanti mungkin cuma tertulis angka hardness.

Tapi di balik itu ada proses panjang: muter spindle, ngatur dial, ganti block HRC–HRB–superficial, ganti bandul 150–100–45–15 kgf, baca skala kecil, ulang berkali-kali.

Dan jujur saja…

itu bagian yang paling saya suka dari kerjaan ini.